Thursday, April 24, 2014
Banner
Gaya Hidup Entertaiment Airsoft Gun Dijual Bebas, Meski Memakan Korban
Banner
Airsoft Gun Dijual Bebas, Meski Memakan Korban Print

Meski sudah cukup banyak terjadi kasus penyalahgunaan airsoft gun, namun faktanya bisnis ini masih berlangsung bebas. Tak sulit untuk membeli replika senjata yang mirip sungguhan ini di mal-mal.

Dua pria berinisal D dan AG tak menyangka kalau dirinya sedang dibuntuti oleh beberapa petugas kepolisian saat turun dari mobil pribadinya di depan Apartemen Gading Permai, Jakarta Utara, pertengahan Oktober 2012. Begitu dua pria berambut lurus ini turun dari mobil, lima orang petugas Satresmob Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya langsung meringkusnya.

D dan AG tertangkap terkait dengan penjualan airsoft gun tanpa izin dari Polri. Rupanya, penangkapan ini merupakan pengembangan kasus penembakan sejumlah halte busway dan kasus pencurian dengan kekerasan dengan menggunakan senjata api yang pernah terjadi sebelumnya.  Setelah ditelusuri, polisi mendapat informasi bahwa senjata yang digunakan para pelaku dibeli dari kedua tersangka.

Kedua pelaku ini menjual airsoft gun tersebut secara online di situs jejaring sosial dan forum jual beli online. Harganya variatif mulai dari Rp 4 juta – Rp 6 juta, dan kalau disertai surat izin bodong bisa lebih mahal lagi. Replika senjata ini dijual untuk umum.

Dari penangkapan ini, kepolisian berhasil menyita 180 pucuk senjata airsoft gun berbagai jenis, lengkap dengan magazine dan peluru gotri. Kedua tersangka ini mengaku sudah menjalankan usaha penjualan ini sejak setahun lalu, dengan profit kurang lebih Rp 500 juta. Atas perbuatan menjual airsoft gun tanpa izin ini, D dan AG terancam dijerat pidana UU Darurat No. 12 Tahun 1951 mengenai Kepemilikan Senjata.
Airsoft gun adalah replika senjata api yang dibuat mirip dengan aslinya. Perbandingan fisiknya 1:1. Materialnya pun ada yang menggunakan metal, sehingga sekilas sulit untuk membedakan mana senjata api dan mana yang replika. Mulanya, keberadaan airsoft gun adalah untuk olagraga menembak yang dikelola oleh pihak Persatuan Petembak dan Berburu Indonesia (Perbakin). Namun, kemudian merambah penggunaannya untuk war game (permainan perang-perangan).
Hampir semua jenis senjata yang ada saat ini, mulai dari jenis senjata genggam (pistol) hingga senjata laras panjang (senapan) ada dalam bentuk replikanya. Bahkan, jenis senjata runduk untuk keperluan tempur para sniper (penembak jitu) pun kini sudah ada dalam bentuk airsoft gun-nya.

Korban-korban Airsoft Gun
Kejahatan dengan menggunakan senjata berpeluru plastik bertekstur keras ini belakangan makin memprihatinkan. Selain kasus di atas, setidaknya dalam setahun lalu terdapat enam kasus serupa. Pada 20 Desember 2011, misalnya, terjadi perampokan dengan menggunakan di Bank Muamalat Kantor Kas Rungkut, Surabaya, dengan kerugian sebesar Rp 93 juta.
Pada 8 Agustus 2012 juga terjadi perampokan di Bank BRI Unit Banyu Urip Surabaya dengan senjata airsoft gun, dengan kerugian sebesar Rp 79 juta. Dan, pada 26 November 2012 telah diamankan seorang pelaku penjual senjata api, namun pada saat ditangkap pelaku melakukan perlawanan dengan dengan cara menambak petugas menggunakan airsoft gun. Dan, masih banyak kasus serupa lainnya.
Serentetan kasus ini membuat pihak kepolisian kemudian mulai membatasi dan mengatur lebih ketat tentang penggunaan replika senjata ini. Bahkan, Badan Intelijen Keamanan  (Baintelkam) Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) mengeluarkan surat edaran mengenai penghentian sementara kegiatan yang menggunakan senjata airsoft gun di Perbakin. Surat edaran tersebut ditandatangani oleh Kepala Baintelkam Mabes Polri Komjen Praktiknyo.

Surat edaran tertanggal 30 November 2012 Nomor B/744/XI/2012/Baintelkam tersebut dikeluarkan, menurut sumber eksekutif di Perbakin, lantaran di temukan beberapa fakta di lapangan. Di antaranya: makin maraknya aktivitas atau kegiatan dengan menggunakan senjata airsoft gun di masyarakat di berbagai wilayah Indonesia; peraturan yang mengatur penggunaan senjata airsoft gun hanya untuk kegiatan tembak reaksi/IPSC di bawah Perbakin, sedangkan kegiatan war game belum ada aturannya; semakin banyaknya senjata airsoft gun yang masuk wilayah Indonesia tanpa izin dan diperdagangkan secara bebas melalui internet; dan terjadinya penyalahgunaan senjata airsoft gun untuk melakukan tindak pidana.

Hampir Setiap Mal
Akankah surat edaran pihak berwajib ini akan merontokkan bisnis airsoft gun di Indonesia, seperti yang terjadi pada saat polisi menghentikan kepemilikan senjata beladiri untuk masyarakat sipil beberapa tahun lalu? Mungkin saja. Ini sangat tergantung dari serius tidaknya kepolisian untuk mengatur.
Masih segar dalam ingatan kita saat (mantan) Kapolri Jenderal Pol. Sutanto mengeluarkan kebijakan bahwa masyarakat atau warga sipil dilarang memiliki, menguasai, dan menggunakan senjata api jenis apa pun untuk alasan bela diri. Sejak itu, bisnis senjata bela diri untuk kalangan sipil mulai meredup. Dalam hitungan bulan, para importir senjata di Jakarta dan kota-kota besar lainnya pun gulung tikar satu per satu.

Munculnya beberapa kasus kriminal dengan menggunakan airsoft gun dalam setahun lalu bisa saja akan menjadi pemantik untuk memberangus bisnis airsoft gun. Namun yang jelas, fakta di lapangan yang ada saat ini, bisnis penjualan airsoft gun masih sebebas menjual peralatan rumah tangga. Tinggal pilih jenis senjata yang disukai, cocok harga, lalu dibungkus, dan dibawa pulang. 
Barang-barang yang bisa melukai sasaran tembaknya ini (bila ditembakkan dalam jarak dekat) dapat dibeli hampir di setiap mal yang ada di kota-kota besar, termasuk Jakarta. Tak percaya? Anda bisa kunjungi mal-mal di sekitar Jakarta. Di sana Anda akan dengan mudah menjumpai toko-toko penjual airsoft gun, lengkap dengan peluru gotri dan beragam atribut ala militer dari berbagai negara.

Bahkan, dari hasil penelusuran eksekutif, di satu mal di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, misalnya, terdapat tiga toko sekaligus penjual airsoft gun. “Silakan Pak, mau cari senjata jenis apa? Ini ada katalognya, tinggal pilih yang Bapak suka,” sapa salah sorang penjaga toko airsoft gun saat eksekutif menyambanginya.
Dua katalog berbahasa China dan Taiwan itu cukup tebal, hampir 300 halaman. Setiap halaman berisi beberapa jenis airsoft gun lengkap dengan spesifikasinya. Mulai dari airsoft gun model senjata serbu M16, senjata untuk perang kota MP5, hingga jenis senjata laras panjang legendaris AK 47. Pada bagian lain, katalog tersebut juga memuat beragam jenis airsoft gun pistol berbagai merek, mulai dari pistol jenis Glock, pistol Beretta, hingga berbagai jenis revolver.

Menurut penjaga toko tersebut, ada dua jenis airsoft gun yang dijual di tokonya. Untuk airsoft gun impor dari China, umumnya menggunakan material sejenis plastik. Sedangkan airsoft gun yang diimpor dari Taiwan kebanyakan menggunakan material metal, sehingga sangat mirip dengan senjata aslinya. Beratnya pun tak jauh beda. “Kalau untuk power-nya ada dua pilihan, ada yang pakai elektrik ada juga yang pakai gas. Harganya sedikit berbeda,” tambah sumber eksekutif ini.
Harga untuk jenis pistol berkisar Rp 2,75 juta plus Rp 900 ribu untuk biaya pengurusan izin kepemilikan. Sementara untuk airsoft gun jenis senapan (laras panjang) harganya mencapai Rp 5 juta lebih plus biaya pengurusan surat izin kepemilikan. Kemana pengurusan izinya? “Cuma ke Polda sama Perbakin,” ujar penjaga toko.
Untuk memastikan pesebaran penjualan airsoft gun di tempat lain, eksekutif juga melakukan penelusuran di beberapa mal di sekitar Kelapa Gading, Jakarta Utara. Di sana juga terdapat beberapa toko yang menjual airsoft gun lengkap dengan berbagai perlengkapan ala militer berbagai negara. Menurut salah seorang penjaga toko di salah satu mal, airsoft gun yang mereka jual rata-rata impor dari China dan Taiwan. China dan Taiwan memang dikenal sebagai negara yang paling banyak mengeskpor airsoft gun ke Indonesia.   
Selain di mal, di kawasan ini juga ada yang menjual di ruko. Sumber eksekutif di Perbakin menyebutkan, pemilik salah satu toko airsoft gun di kawasan bisnis ini adalah pensiunan jenderal polisi. “Memang aneh jadinya, di Perbakin lagi dilarang, tapi dia punya tokonya dan masih jual sampai sekarang,” ujarnya.

Lebih Murah
Selain dijual melalui toko, bisnis replika senjata ini juga banyak ditawarkan melalui dunia maya atau internet. Melalui mesin pencari data Google, lalu lalu ketik airsoft gun, Anda akan menemukan banyak sekali situs yang menawarkan berbagai jenis barang ini. Bahkan, penawarannya jauh lebih murah dibandingkan dengan yang di toko-toko airsoft gun.
Untuk modelAEG SMG Airsoft Gun misalnya, hanya ditawarkan Rp 1,78 juta. Airsoft gun pistol model Glock ditawarkan Rp 1, 3 juta. Sementara  Spring Sniper Airsoft (senapan laras panjang) ditawarkan Rp 1,6 juta. Biasanya, situs-situs penawar airsoft gun ini memberikan layanan gratis ongkos kirim dan keanggotaan klub airsoft gun di jaringan bisnis mereka.  Itulah fakta bisnis airsoft gun yang ada di sekitar kita. Akankah polisi melakukan penertiban terhadap mereka? Kita tunggu saja. (*)

 
Banner

Klik: Channel Para Pebisnis

Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Bose Memperkenalkan Wifi SoundTouch

article thumbnail

Jakarta,- Produsen audio ternama, Bose memperkenalkan sistem musik lewat jaringan wifi yan [ ... ]


Advan Luncurkan Hammer

article thumbnail

Kini Advan mempunyai saudara baru yaitu ponsel merk hammer, Dengan harga yang cukup terjan [ ... ]


Banner
Banner