Thursday, April 24, 2014
Banner
Gaya Hidup Entertaiment Kaya Raya dari Batubara Berapa Buat Negara?
Banner
Kaya Raya dari Batubara Berapa Buat Negara? Print

Beberapa waktu lalu majalah Forbes dari Amerika menerbitkan daftar miliarder sedunia. Orang-orang terkaya sejagat yang nilai net asset-nya semiliar dollar (Rp 9,5 triliun) atau lebih itu jumlahya ada 1,226 orang. Kalau ditotal nilai kekayaan orang-orang ini US$ 4,6 triliun atau sekitar Rp 43.000 triliun. Sekadar perbandingan, APBN kita saja untuk 2012 ini sedikit di atas seribu triliun. Jadi, kekayaan para miliarder ini memang ruar biasa.

Terkaya dari yang kaya, raja telecom Meksiko, Carlos Slim Helu (72) dengan kekayaan US$ 69 miliar (Rp 655 triliun). Ini sudah kesekian kalinya Carlos ada di puncak, setelah mendongkel Bill Gates (56) beberapa tahun lalu. Gates sendiri ada di posisi kedua dengan kekayaan US$ 61 miliar (Rp 580 miliar). Warren Buffet (81), juga dari Amerika, ranking tiga dengan US$ 44 miliar. Satu-satunya orang Asia di top ten adalah Li Ka-shing (83) dari Hong Kong di posisi 9 dengan kekayaan US$ 25,5 miliar (Rp 242 triliun).

Dari Indonesia sendiri terdapat 17 orang di antara seribu sekian orang kaya tadi. Tertinggi posisinya di antara orang Indonesia adalah pemilik Djarum dan Bank BCA, Budi Hartono (71) US$ 6,5 miliar dan Michael Hartono (72) US$ 6,3 miliar. Mereka masing-masing adadi peringkat 146 dan 157 dunia. Termuda dari miliarder Indonesia adalah Hari Tanoe (46) dengan kekayaan US$ 1,3 miliar di peringkat 960 dan Garibaldi “Boy” Thohir (46) di urutan 1015 dengan kekayaan US$ 1,2 miliar.

Dari Asia Tenggara Indonesia punya miliarder Forbes paling banyak, 17 orang. Malaysia rumah bagi 9 miliarder, termasuk individu terkaya di kawasan ini Robert Kuok (88), US$ 12,4 miliar, dan Ananda Krishnan (73) dengan kekayaan US$ 10 miliar. Di Filipina ada enam miliarder sedang Thailand dan Singapura masing-masing lima miliarder. Indonesia, dengan demikian, punya 28% dari seluruh miliarder yang berasal dari Asia Tenggara.

Batubara Berbicara
Yang juga menarik adalah sumber kekayaan orang-orang terkaya Indonesia itu. Ternyata, mulai dari peringkat ketiga, Low Tuck Kwong (63) dengan harta US$ 3,6 miliar (sekitar Rp 34 triliun), sumbernya adalah batubara. Dari 17 orang terkaya Indonesia versi Forbes tadi, lima tercatat memperoleh sebagian besar kekayaannya dari batubara. Tak ada negara lain di Asia Tenggara yang punya miliarder dengan sumber kekayaan batubara. Jadi, jika bicara soal batubara sebagai sumber kekayaan; Indonesia sungguh berbicara.

Low Tuck Kwong aslinya warga Singapura dan kerja di perusahaan konstruksi ayahnya. Tahun 1972 ia pindah ke Indonesia dan awalnya terjun sebagai kontraktor. Tuck Kwong menjadi WNI pada 1992. Pada 1997 ia membeli tambang batubara pertamanya. Setelah itu nasibnya melesat, terutama setelah bisnisnya dikemas menjadi Bayan Resources dan dijual ke publik pada 2008. Pecinta binatang ini bulak-balik Singapura-Indonesia.

Miliarder batubara peringkat berikutnya adalah Kiki Barki (71) dengan US$ 1,7 miliar (Rp 16 triliun). Posisinya di daftar Forbes adalah peringkat 764. Pria kurus ini terlontar masuk daftar terkaya setelah mencatatkan Harum Energy miliknya ke bursa efek. Kiki masih memiliki mayoritas saham perusahaan publik yang sahamnya telah melonjak 35% sejak go public. Kiki juga punya andil di tambang Australia, Cockatoo Coal.

Pada urutan 913 di Forbes Billionaires List adalah Edwin Soeryadjaya (63) dengan net asset value US$ 1,4 miliar (Rp 13,3 triliun). Pendiri Saratoga Capital bersama Sandi Uno ini punya andil sekitar besar di Adaro Energy. Pemegang saham lain di situ selain Sandi adalah Garibaldi Thohir, Benny Subianto, dan Teddy P. Rachmat. Ayah tiga anak ini juga kini pemilik Mandala Air yang bermitra dengan Tiger Air Singapura.

PT Adaro Energy Tbk sendiri dipimpin Garibaldi Thohir (46) sebagai Presdir. Kakak dari pebisnis media Erick Thohir ini punya andil sekitar 15% di Adaro dan diperkirakan punya kekayaan US$ 1,2 miliar (Rp 11,4 triliun). Boy, begitu ayah tiga anak ini disapa, mengelola tambang batubara terbesar di belahan bumi Selatan. Bersama empat investor lain ia menguasai Adaro sejak 2005 lewat saham yang tadinya milik Sukanto Tanoto.

Theodore Permadi Rachmat (67) berada di ranking 1075 list Forbes dengan kekayaan US$ 1,1 miliar (Rp 10,5 triliun). Pak Teddy, begitu ia disapa koleganya, mantan Presdir Astra, perusahaan yang didirikan pamannya, William Soeryadjaya. Punya andil di Adaro, ia kini Preskom di perusahaan batubara itu selain di Adira Finance. Ayah dari tiga anak ini contoh bagaimana eksekutif senior bisa sukses sebagai wirausahawan.

Koneksi Astra
Nama berikutnya, walau tak masuk daftar miliarder dunia versi Forbes, adalah pemain penting di dunia batubara Indonesia, dia adalah Benny Subianto (69). Mantan Direktur Utama PT United Tractors, salah satu anak perusahaan terbesar grup Astra, ini pemilik andil lumayan besar di Adaro Energy. Insinyur mesin lulusan ITB ini ditaksir memiliki kekayaan hampir semiliar dillar (Rp 9,5 triliun). Tahun depan munkin ia masuk daftar ini.

Dari enam nama yang telah dipaparkan di atas, empat darinya ternyata punya hubungan dengan perusahaan Astra atau pendirinya, William Soeryadjaya. Edwin jelas anak lelaki kedua William. Teddy selain pernah bos di Astra adalah keponakan William dan saudara sepupu Edwin. Ayah Boy Thohir, Teddy Thohir, mantan eksekutif senior di Astra selain orang kepercayaan William. Dan Benny, pastinya, dekat dengan semua karena ia mantan Dirut dan direktur di banyak anak perusahaan Astra dan kini tergabung di Adaro.

Dengan kekayaan yang ditaksir mencapai US$ 940 juta, Samin Tan (46) adalah pebisnis lain yang kaya raya dari batubara. Pendiri dan Dirut PT Borneo Lumbung Energy Tbk ini menguasai entitas bisnis yang nilainya di Bursa Efek Indonesia Rp 14,1 triliun. Kekayaan Samin sendiri, dalam rupiah, ditaksir sekitar Rp 8,9 triliun. Baru-baru ini Samin membeli 24% saham Bumi Plc yang dikuasai Bakrie. Ia jadi Chairman di perusahaan yang listed di London Stock Exchange dengan Ari Hudaya (wakil Bakrie) sebagai co-chairman. Alhasil Nathaniel Rotschchild, mitra Inggris mereka, terdepak dari kursi pimpinan Bumi Plc.

Aburizal Bakrie (65) mengandalkan sebagian kekayaan dari produsen batubara Bumi Resources yang dijalankan oleh adiknya, Nirwan Dermawan Bakrie. Bos Partai Golkar yang diperkirakan bakal maju sebagai Capres pada 2014 ini diperkirakan punya asset US$ 890 juta (Rp 8,5 triliun). Ayah tiga anak ini nasib bisnisnya naik-turun. Baru saja keluarga Bakrie harus melepas setengah andilnya di Bumi untuk membayar utang. Tapi Ical, begitu panggilannya, tak pernah kendur dalam hal semangat tempurnya.

Pemain batubara kunci lainnya ialah pasangan Engki Wibowo (59) dan Jenny Quantero (58) turut mendirikan Bayan Resources bersama Low Tuck Wong. Kini Engki direktur di Bayan sedangkan istrinya Jenny adalah sekretaris perusahaan. Kekayaan mereka ditaksir US$ 810 juta (Rp 7,7 triliun). Tak banyak yang diketahui tentang pasangan ini karena keduanya menghindari sorotan pers. Jenny pernah bekerja untuk Bechtel Indonesia.

Anggota dari “geng” Adaro lainnya, yang termuda, adalah Sandiaga Uno (41). Ayah tiga anak ini (bungsu laki-laki) adalah pendiri Saratoga Capital bersama Edwin Soeryadjaya pada 1998. Setahun sebelumnya ia berpartner dengan teman sekolahnya, Rosan Roeslani, mendirikan Recapital Advisors. Rosan sendiri menjadi pemain serius di bisnis batubara melalui kepemilikan Recapital akan porsi signifikan saham dari PT Berau Coal Tbk.

Batubara sebagai kekayaan yang tersimpan di perut bumi Nusantara jelas telah membuat kaya raya banyak anak bangsa, pengusaha berkewarganegaraan Indonesia. Bahwa upaya itu juga mengisi pundit-pundi negara, lewat pajak, royalti, bagi hasil, dan sebagainya, itu pasti. Dan sudah sewajarnya. Namun tetap ada pandangan bahwa eksploitasi batubara itu masih timpang, dalam arti lebih banyak menguntungkan pelakunya ketimbang negara.

Sementara batubara adalah kekayaan yang terkandung dalam perut bumi dan seharusnya dianggap mempunyai dampak besar bagi hajat hidup rakyat banyak. Sama seperti minyak dan gas bumi. Bedanya, kontribusi migas pada APBN sangat jelas. Dan jauh lebih besar daripada batubara yang sama-sama produsen energi. BP Migas tiap tahunnya kontribusi Rp 250 triliun ke negara. Pertamina tahun lalu bayar dividen Rp 25 triliun ke pemerintah. Bahkan BPH Migas yang urusannya usaha hilir itu bisa menyumbang Rp 1 triliun. Lantas bagaimana dengan batubara? (WI)

 

 
Banner

Klik: Channel Para Pebisnis

Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Bose Memperkenalkan Wifi SoundTouch

article thumbnail

Jakarta,- Produsen audio ternama, Bose memperkenalkan sistem musik lewat jaringan wifi yan [ ... ]


Advan Luncurkan Hammer

article thumbnail

Kini Advan mempunyai saudara baru yaitu ponsel merk hammer, Dengan harga yang cukup terjan [ ... ]


Banner
Banner